Rabu, 07 Desember 2011

hubungan ilmu kalam, filsafat dan tasawuf


HUBUNGAN ILMU KALAM, FILSAFAT DAN TASAWUF

A.     Titik Persamaan
Ilmu kalam, filsafat", dan tasawuf mempunyai kemiripan objek kajian. Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu vang berkaitan dehgan-Nya. Objek kajian filsafat adalah masalah ketuhanan di samping masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada. Sementara itu objek kajian tasawuf adalah Tuhan, yakni upaya-upaya pendekatan terhadap-Nya. Jadi, dilihat dari aspek objeknya, ketiga ilmu itu membahas masalah yang berkaitan dengan ketuhanan. Baik ilmu kalam, filsafat, maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama, yaitu kebenaran.
Ilmu kalam, dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenaran tentang Tuhan dan yang berkaitan dengan-Nya. Filsafat dengan wataknya sendiri pula, berusaha menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun manusia (yang belum atau tidak dapat dijangkau oleh ilmu pengetahuan karena berada di luar atau di atas jangkauannya), atau tentang Tuhan. Sementara itu, tasawuf juga dengan metodenya yang tipikal-berusaha mehghampiri kebenaran yang berkaitan, dengan perjalanan spiritual menuju Tuhan.                        

B.    Titik   Perbedaan                         
Perbedaan di antara ketiga ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam, sebagai ilmu yang menggunakan logika di samping argumentasi-argumentasi naqliah- berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama. Pada dasarnya ilmu ini menggunakan metode dialektika (jadaliah) dikenal juga dengan istilah dialog keagamaan. Sebagai sebuah dialog keagamaan, ilmu kalam berisi keyakinan-keyakinan kebenaran agama yang dipertahankan melalui argumen-argumen rasional. Sebagian ilmuwan bahkan mengatakan bahwa ilmu ini berisi keyakinan-keyakinan kebenaran, praktek dan pelaksanaan ajaran agama, serta pengalaman keagamaan yang dijelaskan dengan pendekatan rasional.
Sementara itu, filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Metode yang digunakannya pun adalah metode rasional. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan (mengembarakan atau mengelanakan) akal budi secara (mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal (mengalam); tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri yang bemama logika. Peranan filsafat sebagaimana dikatakan Socrates adalah berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep (the gaining of'conceptual clarity).
Berkenaan dengan keragaman kebenaran yang dihasilkan oleh kerja logika maka di dalam filsafat dikenal apa yang disebut kebenaran korespondensi. Dalam pandangan korespondensi, kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan fakta dan data itu sendiri. Dengan bahasa yang sederhana, kebenaran adalah persesuaian antara apa yang ada di dalam rasio dengan kenyataan sebenamya di alam nyata.
Di samping kebenaran korespondensi, di dalam filsafat juga dikenal kebenaran koherensi. Dalam pandangan koherensi, kebenaran adalah kesesuaian antara suatu pertimbangan baru dan suatu pertimbangan yang telah diakui kebenarannya secara umum dan permanen. Jadi, kebenaran dianggap tidak benarkalau tidak sesuai dengan kebenaran yang dianggap benar oleh ulama urnum.                                     
Di samping dua macam kebenaran di atas, di dalam filsafat dikenal juga kebenaran pragmatik. Dalam pandangan pragmatisme, kebenaran adalah sesuatu yang bennanfaat (utility) dan mungkin dapat dikerjakan (workability) dengan dampak yang memuaskan. Jadi, sesuatu akan dianggap tidak benar kalau tidak tampak manfaatnya secara nyata dan suiit untuk dikerjakan.
Adapun ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa daripada rasio.  Sebagai sebuah ilmu yang prosesnya diperoleh dan rasa, ilmu tasawuf bersifat sangat subjektif, yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseorang. Itulah sebabnya, bahasa tasawuf sering tampak aneh bila dilihat dari aspek rasio. Hal ini karena pengalaman rasa sangat sulit dibahasakan.
Pengalaman rasa lebih mudah dirasakan langsung oleh orang yang ingin memperoleh kebenarannya dan mudah digambarkan dengan bahasa lambang, sehingga sangat interpretable (dapat diinterpretasikan bermacam-macam). Sebagian pakar mengatakan bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi, atau ilham, atau inspirasi yangdatang dan tuhan.
Kebenaran yang dihasilkan ilmu tasawuf dikenal dengan istilah kebenaran hudhuri, yaitu suatu kebenaran yang objeknya datang dari dalam diri subjek sendiri. Ilmu seperti ini dalam sains dikenal dengan ilmu yang diketahui bersama atau tacit knowledge, dan bukan ilmu proporsional.                                           
Dilihat dari aspek aksiologi (manfaatnya), teologi di antaranya berperan sebagai ilmu yang mengajak oranevang baru untuk mengenal rasio sebagai upaya mengenal Tuhan secara rasional. Adapun filsafat, lebih berperan sebagai ilmu yang mengajak kepada orang yang mempunyai rasio secara prima untuk mengenal Tuhan secara lebih bebas melalui pengamatan dan kajian alam dan ekosistemnya langsung. Dengan cara ini, orang yang telah mempunyai rasio sangat prima diharapkan dapat mengenal Tuhan secara meyakinkan melalui rasionya.Adapun tasawuf lebih berperan sebagai ilmu yang memberi kepuasan kepada orang yang telah melepaskan rasionya secara bebas karena tidak memperoleh apa yang ingin dicarinya.
Sebagian orang memandang bahwa ketiga ilmu itu memiliki jenjang tertentu. Jenjang pertama adalah ilmu kalam, kemudian filsafat dan yang terakhir adalah ilmu tasawuf.

C.    Titik Singgung Antara Ilmu Kalam Dan Ilmu Tasawuf
Ilmu kalam, sebagaimana telah disebutkan terdahulu, merupakan disiplin ilmu keislaman yang mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan. Persoalan-persoalan kalam ini biasanya mengarah pada perbincangan yang mendalam dengan dasar-dasar argumentasi, baik rasional (aqliyah) maupun naqtiyah. Argumentasi rasional yang dimaksudkan adalah landasan pemaliaman yang cenderung menggunakan metode berpikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliyah biasanya bertendensi pada argumentasi berupa dalil-dalil Quran dan Hadis. Ilmu kalam sering menempatkan dirinya pada kedua pendekatan ini (aqli dan naqli). Jika pembicaraan ilmu kalam ini hanya berkisar pada keyakinan-keyakinan yang harus dipegang oleh umat Islam, tanpa argumentasi rasional, ilmu ini lebih spesifik mengambil bentuk sendiri dengan istilah ilmu tauhid.
Pembicaraan materi yang tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak menyentuh dzauq (rasa rohaniah). Sebagai contoh, ilmu tauhid menerangkan bahwa Allah bersifat sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), Kalam (Berbicara), Iradah (Berkemauan), Qudrah (Kuasa), Hayat (Hidup), dan sebagainya. Namun, ilmu kalam atau ilmu tauhid tidak menjelaskan bagaimanakah seorang hamba dapat merasakan langsung bahwa Allah mendengar dan melihathya; Bagaimana pula perasaan hati seseorang ketika membaca Al-Quran; Dan bagaimana seseorang merasa bahwa segala sesuatu yang tercipta merupakan pengaruh dari Qudrah  (Kekuasaan) Allah ?                                    
Pertanyaan ini sulit terjawab apabila hanya melandaskan diri pada ilmu tauhid atau ilmu kalam. Biasanya, yang membicarakan tentang penghayatan sampai pada penanaman kejiwaan manusia adalah ilmu tasawuf. Disiplin inilah yang membahas bagaimana merasakan nilai-nilai akidah dengan memperhatikan bahwa persoalan tadzawwuq (bagaimana merasakan) tidak saja termasuk dalam lingkup hal yang sunah atau, dianjurkan,tetapi justru termasuk hal yang diwajibkan.
As-Sunnah memberikan perliatian yang begitu besar terhadap masalah tadzcnvwuq. Ini tampak pada Hadis Rasul yang dikutip dari Said Hawwa: "Yang merasakan imun adalah orang yang rida kepada Allah sebagai Tuhan, rida kepada islam sebagai agama, dan rida kepada Muhammad sebagai Rasul". Dalam Hadis lain, Rasulullah pun pernah mengungkapkan, "Ada tiga perkara yang mengakibatkan seorang dapat merasakan lezatnya iman: Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain; Orang yang mencintai hamba karena Allah; dan orang yang lakut kembali kepada kekufuran, seperti ketakutannya untuk dimasukkan ke dalam api neraka.
Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan definisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Adapun pada ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinaridan ketentraman, serta upaya menyelamatkan diri dari kemunafikan. Tidaklah cukup bagi seseorang yang hanya mengetahui batasan-batasannya. Hal ini karena terkadang seseorang yang sudah tahu batasan-batasan kemunafikan pun tetap saja melaksanakannya. Allah berfirman:                                                     
ÏMs9$s% Ü>#{ôãF{$# $¨YtB#uä ( @è% öN©9 (#qãZÏB÷sè? `Å3»s9ur (#þqä9qè% $oYôJn=ór& $£Js9ur È@äzôtƒ ß`»yJƒM}$# Îû öNä3Î/qè=è% ( bÎ)ur (#qãèÏÜè? ©!$# ¼ã&s!qßuur Ÿw Nä3÷GÎ=tƒ ô`ÏiB öNä3Î=»yJôãr& $º«øx© 4 ¨bÎ) ©!$# Öqàÿxî îLìÏm§ ÇÊÍÈ  
Artinya:"Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi Katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Ath-Thabrani, dalam kitab Al-Kabir, meriwayatkan Hadis sahih dari Ibnu Umar r.a. la berkata:
Artinya:"Pada sualu hari saya bersama-sama dengan Nabi. Beliau didatangi oleh Hurmalah bin Zaid. la duduk di hadapan Nabi seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, iman itu di sini (sambil mengisyaratkan pada lisannya) dan kemunafikan itu di sini (seraya menunjuk dadanya). Kami tidak pernah mengingat Allah, kecuali sedikit.  Rasulullah mendiamkannya, maka Hurmalah mengulangi ucapannya tadi, lalu Rasulullah SAW. memegang Hurmalah seraya berdoa: 'Ya Allah jadikanlah untuknya lisan yang jujur dan  hati yang bersyukur, kemudian jadikan dia mencintai orang yang cinta kepadaku. dan jadikanlah urusannya baik'. Kemudian Hurmalah berkata, 'Wahai Rasulullah aku mempunyai banyak lemon yang munafik, dan aku adalah pemimpin mereka, tidakkah aku akan memberi tahu nama-nama mereka kepadamu?' Rasulullah SAW. menjawab, 'Siapa yang datang kepada kami. kami akan mengampuninya sebagaimana kami mengampunimu, dan siapa yang berketetapan hati untuk melaksanakan agamanya, maka Allah lebih ulama baginya, janganlah menembus tirai (hati) seseorang !"                                       

Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf berfungsi sebaagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahamah kalam. Penghayatan yang mendalam lewat hati (dzauq dan widfan) terhadap ilmu tauhid atau ilmu kalam menjadikan ilmu ini lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian, ilmu tasawuf merupakan penyempurna tauhid jika dilihat bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi terapan rohaniyah dari ilmu tauhid.                                 
Ilmu kalam pun berfungsi sebagai pengendali ilmu tasawuf. Oleh karena itu, jika timbul suatu aliran yang bertentangan dengan akidah atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, hal itu merupakan penyimpangan atau penyelewengan Jika bertentangan atau tidak pernah diriwayatkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah, atau belum pernah diriwayatkan oleh ulama-ulama salah hal itu harus ditolak.                                         
Selain itu, ilmu tasawuf mempunyai fungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan-perdebatan kalam. Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung muatan rasional di samping muatan naqliyali. Jika tidak diimbangi oleh kesadaran rohaniah, ilmu kalam dapat bergerak kearah yang lebih liberal dan bebas. Di sinilah ilmu tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah, yang kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan secara qabliyah (hati).                               
Bagaimanapun amalan-amalan tasawuf mempunyai pengaruh yang besar dalam ketauhidan. Jika rasa sabar tidak ada, misalnya, muncullah kekufuran. Jika rasa syukur sedikit, lahirlah suatu bentuk kegelapan sebagai reaksi. Begitu juga ilmu tauhid dapat, memberikan kontribusi kepada ilmu tasawuf. Sebagai contoh jika cahaya tauhid telah lenyap akan timbullah penyakit-penyakit kalbu, seperti ujub, congkak, riya, dengki, hasud, dan sombong. Andaikata manusia sadar bahwa Allah-lah yang memberi, niscaya rasa hasud dan dengki-akan sirna. Kalau saja dia tahu kedudukan penghambaan diri, niscaya tidak akan ada rasa sombong. Kalau saja manusia sadar bahwa dia betul-betui hamba Allah, niscaya tidak akan ada perebutan kekuasaan. Kalau saja manusia sadar bahwa Allah-lah pencipta segala sesuatu, niscaya tidak akan ada sifat ujub dan riya. Dari sinilah dapat dilihat bahwa ilmu tauhid merupakan jenjang pertama dalam pendakian menuju Allah (pendakian para kaum sufi).
Dengan ilmu tasawuf, semua persoalan yang berada dalam kajian ilmu tauhid terasa lebih bermakna, tidak kakum, tetapi lebih dinamis dan aplikatif.












DAFTAR PUSTAKA


Al-Ghazali, Al-Maqhad Al-Asna Fi Syarh Al-Asma Allah Al-Husna, Terj. Ilyas Hasan, Mizan, Bandung, 1996, hal.73-74.
Endang Saifuddin Anshari, Ilmu Filsafat Dan Agama, PT. bina ilmu, Surabaya, 1990, hal.174.





www.hubungan ilmu.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar